3 Dampak Revitalisasi Kota terhadap Permintaan Rumah Murah di Bogor

20150205-134237_92

Kota Bogor telah beberapa tahun ini digadang-gadang bisa menyaingi kota Bandung dari berbagai sektor. Diharapkan, bahwa permintaan rumah murah di Bogor bisa meningkat seiring adanya revitalisasi kota yang melibatkan banyak pihak. Pembersihan kota dari kekumuhan ini rupanya berdampak besar pada penjualan properti. Kenapa?

  1. Investor dalam Negeri dan Luar Negeri Berdatangan

Kota yang direvitalisasi akan menampakkan keanggunannya. Ini disadari betul potensinya oleh para investor yang ada di Indonesia dan dunia. Kota yang bersih dan multiguna sangat mempengaruhi animo para pendatang. Siapa yang tidak suka dengan kota yang bersih, ditambah lagi warga yang ramah?

Berkat kedatangan banyak investor domestik dan asing, permintaan properti khususnya rumah petak juga tinggi. Mereka tidak segan-segan mengucurkan dana segar demi kemajuan kota. Khususnya di kota Bogor yang setiap tahun mengalami perkembangan pesat dari berbagai segi.

Adanya hubungan mutualisme antara pemerintah, investor, pengembang, dan juga agen properti, sudah pasti Bogor akan difavoritkan banyak orang di tahun mendatang. Hal ini diperkaya dengan adanya fakta bahwa kontur tanah dan juga temperamen udara di Bogor jauh berbeda dengan Jakarta.

Namun harapan lain datang dari masyarakat. Terutama yang menyangkut ketahanan alam seiring perkembangan di bidang properti. Umumnya, ketika kota semakin berkembang, maka sumber daya alam akan diabaikan fungsinya demi pembangunan gedung dan perumahan.

Kekhawatiran itu rupanya tidak menjadi soal untuk kota Bogor. Sebab, Bogor didominasi oleh wisata barunya yang mengedepankan alam sebagai harta berharganya. Tidak mungkin ada yang berani mengusik wisata alam yang telah memiliki legalitas dari pemerintah.

Yang ada tinggal pemanfaatan lahan kosong untuk pengembangan properti. Jadi, nantinya tidak sejengkal tanah pun di Bogor yang sia-sia. Setiap bidang usaha bisa berjalan saling terkait. Sementara dari masyarakat sekitar, usaha ini perlu dukungan mereka agar bisa berjalan dengan lancar. Toh, masyarakat pula yang diuntungkan kelak.

  1. Jumlah Pendatang Berpotensi Meningkat

Barangkali pada tahun-tahun sebelumnya, animo warga daerah lain terhadap Bogor amat lesu. Anggapan mereka tentang Bogor yang masih dominan dengan warna tradisional dan kumuh tidak jarang terlontar begitu saja. Lalu mereka bergumam, “Apa untungnya merantau ke Bogor?”

Anggapan itu kemungkinan akan sirna pada tahun-tahun mendatang. Umumnya, para pendatang atau perantau dari luar daerah yang singgah ke Bogor karena alasan kerja. Kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan. Entah menjadi kenek atau tukang. Kedua-duanya memiliki jumlah yang relatif sama, meskipun lebih banyak keneknya.

Padahal, secara tidak langsung, para buruh bangunan bersentuhan langsung dengan masalah properti. Bukankah lucu kalau sesama buruh bangunan justru saling melontarkan nada sinis terhadap kota Bogor? Padahal gaji mereka juga tergantung dari jumlah pembangunan properti yang ada di sana.

Tingginya para perantau sudah pasti menyebabkan permintaan rumah murah di Bogor terus alami peningkatan. Mereka butuh tempat tinggal yang layak. Sebab, masih ditemukan di antara para perantau di Bogor yang tidur saja masih di bawah langit persis, tanpa tedeng aling-aling. Padahal biaya KPR murah pengurusannya sangat mudah.

  1. Jumlah Pelaku Usaha Dagang akan Naik

Revitalisasi yang belum begitu bisa diterapkan dengan baik itu seputar pasar. Sebab, pikiran lama para pedagang tradisional masih kerap membelenggu. Mereka menganggap bahwa pembangunan ulang pasar bukanlah jalan satu-satunya yang ditempuh untuk mencapati kesejahteraan antar-pedagang.

Mereka khawatir tidak akan mendapatkan hasil selama proses revitalisasi berlangsung. Sementara tumpuan usaha mereka hanya bergerak di pasar saja. Hal inilah yang mampu memicu pro-kontra antara sesama pedagang dengan pemerintah. Apabila pemerintah tidak bijak, bukannya pembangunan yang terjamin, justru kemungkinan bisa mangkrak.

Mangkrak di sini bukan karena adanya praktik korupsi, lho. Meskipun ada saja yang menunggangi momentum genting ini. Namun, untuk merevitalisasi pasar dibutuhkan pengertian berlebih dari pedagang setempat. Sehingga pada akhirnya bisa melahirkan konsensus bersama yang menyangkut kesejahteraaan antar-pedagang.

Di sini dibutuhkan penyuluhan yang terpadu dan berkelanjutan. Artinya, selama proses revitalisasi berlangsung, bagaimana caranya agar pedagang punya penghasilan lain. Kiat-kiat kreatif ini wajib diterapkan agar para pedagang tidak kehilangan pendapatan harian. Jadi, semua bisa bergerak secara alami.

Ketika proses revitalisasi pasar berjalan dengan baik, bukan hanya pedagang yang diuntungkan, tetapi pihak lain. Para pengunjung pasti akan lebih senang berbelanja di pasar yang bersih dan modern. Pasar tradisional tidak harus bau dan kumuh. Tetapi bisa pula setara dengan pasar modern, hanya saja produk-produknya tetap tradisional.

Saat sebuah kawasan pasar sudah begitu maju, otomatis jumlah pedagang bertambah. Ini pula yang menyebabkan banyak properti di Bogor terjual habis. Mereka semua menginginkan kemajuan, bukan kemunduran. Demi tercapainya Bogor sebagai kota bersih dan asyik dikunjungi orang dari berbagai penjuru daerah.

Kemungkinan rumah murah di Bogor banyak diminati akibat revitalisasi kota bukanlah isapan jempol semata. Ini sudah terbukti pada tahun-tahun sebelum 2017. Tingginya aneka layanan publik dan pembangunan setempat membuat nilai jual tanah melonjak. Kiranya, ini hasil akhir yang paling disorot peminat properti di mana pun.

Advertisement

No comments.

Leave a Reply